--Kawan-kawan, seperti yg telah kujanjikan, aku akan memulai ceritaku. Satu per satu, tahap per tahap. Kalian boleh suka, boleh juga enggak. Aku hanya pengen menulis, dan berbagi--
Hari itu--entah berapa tahun lalu--menjadi hari terindah. Aku di antar kedua ortu ke sebuah asrama. Sebuah tonggak kehidupan baru akan aku jalani. Hidup di asrama, dengan aktivitas beragam dan terjadwal, dan teman-teman yang banyak. Ini memang impianku, karena usia selepas SMP kurasa cukup untuk lepas dari keluarga. Meski, tentu saja, tak kan lepas sepenuhnya. Paling tidak, aku sudah bisa mulai berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang baru.
Riang dan bersemangat, itulah hari-hari awalku. Aku segera punya teman banyak. Persiapan masuk sekolah kami lakukan bersama-sama, dengan bantuan kakak senior. Kegiatan ekstra di asramapun dimulai untuk anak-anak baru. Ada paduan suara, olahraga bola volley, badminton, menari, beladiri, dan juga giliran regu masak. Aku sangat menyukai suasana baru kehidupanku.
Sampai, pada minggu kedua, penghuni baru harus menjalani ritual rutin, semacam "plonco", yang sudah berjalan sejak dulu. Kami diberi jaminan, acara itu tidak akan menjadi ajang kekerasan atau balas dendam. Mental kami, kata senior, akan dilatih dan dibentuk agar mampu menghadapi tantangan kehidupan. Yah, terdengar memotivasi. Kami para penghuni baru diwajibkan menggantung kertas bertuliskan nama jelek masing-masing. Nama itulah yang berlaku selama plonco. Malam-malam, kami harus berbaris dan merayap di lapangan, kemudian berbaris dengan mata ditutup, dan digiring ke suatu tempat. Ketika tutup mata dibuka, kami telah berada di sebuah gudang yg remang-remang, dan beberapa sosok warna putih terlihat bergentayangan. Kami menjerit karena kaget dan ketakutan. Sampai lampu menyala, barulah terlihat wajah kakak-kakak kelas kami. Mereka tersenyum, dan menenangkah kami. Yah, begitulah beberapa permainan mendebarkan yang mengisi acara "plonco" kami.
Shinta, seorang senior yang begitu baik, suatu malam menjadi koordinator kegiatan. Malam itu, kami disuruh mencebur ke kolam ikan yang sedang digali. Kami beramai-ramai disuruh mengangkat lumpur ke atas, sambil mengeruk untuk menambah kedalamannya. Tubuh kami berlepotan lumpur, tapi kami bekerja dengan riang. Beberapa anak manja yang terlihat ogah-ogahan, dihukum merayapi lumpur. Setelah pekerjaan kami dinilai cukup, mbak Shinta memberi aba-aba untuk berbaris. Dengan tubuh berlepotan lumpur, kami berbaris berjajar, dan menyanyi. Ah, ada-ada saja. Pengelola asrama tampil dan menyampaikan wejangan dan nasehatnya. Sebagian teman terlihat sudah menguap dan mengantuk. Untunglah, tak lama, acara pun selesai. Kami diperintahkan untuk segera mandi dan istirahat.
Sekoyong-konyong, mbak Shinta menepuk bahuku. Aku dan seorang teman diminta tetap tinggal di sekitar kolam. Kulihat di sekeliling, beberapa orang teman juga tampak masih tinggal dengan seorang senior.
"Kalian hebat," kata Shinta. Lalu dia mengatakan, kalau beberapa dari kami tampak lebih bersemangat dari teman-teman lain. Rupanya para senior itu sengaja mengumpulkan beberapa dari kami, untuk pengkaderan selanjutnya. Hanya saja, keanehan kurasakan ketika teman-teman lain sudah bubar, aku sendiri masih ditahan oleh Shinta. "Sis, aku juga kepengen mandi, ayo mandi sama-sama," ajaknya. Aku kaget. Kalau mandi bareng teman-teman seangkatan dalam satu kamar mandi, sudah biasa. Tapi dengan seniorku?
Tanpa banyak tanya, aku ikuti langkahnya. Kamar mandi di asrama berderet panjang, dan Shinta mengajakku ke kamar mandi paling ujung. Aku tak bisa berkata-kata, saat dia langsung melepas pakaiannya, dan seolah tak ada aku di situ, dia mengguyur tubuhnya dengan leluasa. Tanpa beban. Aku pun melepas pakaianku semua, agak ragu. Tiba-tiba mbak Shinta memperhatikan tubuh bugilku yang berlepotan lumpur. "Wah, banyak lumpurnya Sis," katanya sambil menyapu lumpur di tubuhku dengan telapak tangannya yang basah. Tanpa canggung, dia terus melakukan itu, sampai tangannya menjamah memekku. "Hmm, untung gak ada lumpur yang masuk sini ya Sis?" tunjuknya ke lubang memekku. Aku seperti tersihir, terpana, dan terpaku. Berdebar-debar dan keheranan.
"Kok malah bengong," ujarnya lagi. Tanpa sungkan, dia terus menghapus lumpur di daerah paha, perut dan betisku. Dan, deg!!! Dadaku berdesir saat dia memegang-megang memekku. Astaga, dia mencium memekku. Seperti tak puas, direkahkannya bibir memekku, lalu dia cium lagi. Aku bergidik dan merasa malu. Bau apa saja pasti ada di memekku setelah berkeringat, pipis, dan bekerja menggali kolam. Amis, pesing, busuk, entah apalagi. Tapi ekspresi wajah mbak Shinta malah tampak menikmati.
"Eh, kok bengong sih, ayo mandi, bau tuh memeknya," seringai Shinta segera menyadarkanku dari "sihir" aneh itu, dan masih dengan bingung, pelan-pelan aku mengguyur tubuh. Keramas, bersabun, lalu mengguyur lagi. Di kamar mandi lain pun masih kudengar suara celoteh teman-teman sambil mandi.
Setelah mengeringkan badan dan siap memakai daster tidur, Shinta menahanku. Dengan bertanya-tanya, kupandangi saja dia yang berjongkok di selangkanganku, jarinya merekahkan bibir memekku, dan menciumnya. Agak lama, dan...gila!!! Dikecupnya beberapa kali!!! "Nah, sekarang udah wangi, kan?" ucapnya menyadarkanku. Wajahku hangat karena malu. Setelah memakai daster tidur, kami keluar dari kamar mandi tanpa bicara. Seperti tidak perbah terjadi apa-apa, dia menyapa teman-teman yang sedang bersiap tidur.
Malam itu, tidurku gelisah. Di benakku berkelebat bayangan dan kebingungan. Deretan pertanyaan tak pernah habis, hingga aku terus membolak-balik badan di ranjang tingkat itu. Aku di tingkat atas, Shinta di tingkat bawah. Aku melongok ke bawah, Shinta sudah terlelap. Begitu nyenyak, begitu luwes, seolah kejadian di kamar mandi tak pernah terjadi.
Sampai akhirnya, aku bisa tertidur juga lama setelah itu. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu Shinta entah di dunia mana. Dia mencium bibirku. Dia memelukku. Tiba-tiba, aku terjaga, mendapatkan Shinta telah benar-benar memelukku di ranjang atas yang sempit...
PS: ceritaku akan dilanjutkan tahun depan, see u all...