

Hari itu, aku banyak merenung. Aku berpikir dan mengingat-ingat "kejadian" bersama mbak Shinta tadi subuh. Ada apa dengan Shinta? Ada apa denganku? Benar atau salah apa yang telah kami (tepatnya Shinta) perbuat? Seumur-umur, aku tak pernah terlalu teliti dengan tubuhku. Seingatku, pertama kali aku benar-benar melihat vaginaku saat SMP, sewaktu aku mendapatkan haid yang pertama. Ibu menjelaskan perihal haid yang pasti dialami setiap perempuan, dan dia menasehati agar aku benar-benar menjaga vaginaku, terutama saat haid. Hari pertama haid, ibu yang memasangkan pembalut sambil menerangkan bagaimana cara memasang yang benar. Berikutnya, ibu mengharuskan ku untuk bisa memasang pembalut sendiri. Waktu itu, aku selalu mengangkang di depan kaca jika memasangnya, khawatir meleset. Hanya begitu saja. Tak pernah aku betul-betul teliti mengamati vaginaku.
Sampai hari ini, saat aku baru duduk di SMU, penasaran menyelubungi perasaanku. Aku melamun saat sarapan, juga setelah duduk di kelas. Pkiranku membayang pada "perlakuan" mbak Shinta pada vaginaku, pada memekku. Aku membayangkan memekku: bulu-bulu halus yang tumbuh, bibirnya yang merah bercampur coklat, gundukannya, lendirnya, baunya yang kadang pesing kadang amis... Iiih...bagaimana mbak Shinta kok bisa asyik dan tampaknya sangat menikmati menjilat, ngemut dan menghisap memekku? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain. Tubuhku agak gemetar, kerongkonganku kering, dan memekku terasa berdenyut-denyut. Agak basah rasanya. Di sekelilingku, teman-teman tampak sibuk sendiri. Ada yang mencatat di buku, ada yang ngobrol pelan-pelan, ada yang bencanda, sementara ketua kelas mencatat sesuatu di white board. Pak Guru yang berkacamata tebal tampak sibuk sendiri di mejanya.
Aku pun kembali menenggelamkan lamunanku pada "pengalaman pertama" tadi subuh. Rasa isengku lalu muncul. Memekku makin berdenyut-denyut, membuat aku menggerakkan kedua pahaku. Membuka, menutup, membuka, menutup. Geli rasanya, tapi aku terus menggerakkan kedua pahaku, pelan-pelan. Badanku terasa hangat, geli dan geli di selangkanganku semakin membuat ketagihan! Sampai akhirnya...tubuhku agak menegang, nafasku agak sesak, dan selangkanganku serasa mendenyut semakin kuat dan semakin basah. Aku menggigit bibir, dan beberapa kejutan aneh terasa di selangkangan dan menyebar ke lutut dan sendi-sendiku! Tubuhku segera lemas, dan tanpa kusadari tanganku mencengkeram tasku! Aneh, denyutan beberapa kali di memekku tadi terasa enak sekali, sampai nyaris aku kehilangan kesadaran beberapa saat.
Kupandangi sekelilingku, masih seperti tadi setiap orang sibuk dengan diri masing-masing. Dengan hati-hati dan agak takut, aku masukkan tanganku ke dalam rok, dan meraba celana dalamku. Basah!. Kuselipkan jariku ke memekku, basaaah banget. Kusibakkan pinggiran celana dalam yang menutupi memekku, dan kubiarkan begitu sambil kuambil tisu dari tas. Dengan tisu itu, lendir yang membanjiri memekku kulap pelan-pelan. Dengan sembunyi-sembunyi, kuendus tisu itu, entah bau apa yang ada di situ. Mungkin bau lendir, sedikit pesing, dan sedikit bau keringat. Bau yang serba tipis dan samar-samar.
Saat istirahat, aku bertemu mbak Shinta di kantin. Sikapnya biasa saja, seolah tak pernah terjadi "sesuatu" di antara kami. Dia menyapaku seperti biasa, dan kami menikmati jajanan yang ada di situ. Kami duduk sambil menikmati cemilan dan bercerita kesana kemari. Biasalah, suasana riuh di kantin saat istirahat.
"Hei kok melamun, Sis?" Mbak Shinta menepuk pundakku. Aku kaget dan wajahku terasa hangat. Salah tingkah, dan pikiranku mencari-cari alasan. Tiba-tiba saja Mbak Shinta berbisik: "Gimana, enak gak? Kalo enak, tar malem lagi yah Sis..."
Aku segera tahu maksudnya. Aku hanya mengangguk, pelan sekali. Bel berbunyi, kami harus masuk kelas. Jam pelajaran berikutnya sangat membosankan, terlebih aku merasa tak sabar untuk "tar malem lagi" yang dibisikkan Mbak Sisca itu.