--aku lesbian--akukesepian--akumencarikawan--



Saturday, January 19, 2008
Tar malem lagi ya, Sis...

 

Hari itu, aku banyak merenung. Aku berpikir dan mengingat-ingat "kejadian" bersama mbak Shinta tadi subuh. Ada apa dengan Shinta? Ada apa denganku? Benar atau salah apa yang telah kami (tepatnya Shinta) perbuat? Seumur-umur, aku tak pernah terlalu teliti dengan tubuhku. Seingatku, pertama kali aku benar-benar melihat vaginaku saat SMP, sewaktu aku mendapatkan haid yang pertama. Ibu menjelaskan perihal haid yang pasti dialami setiap perempuan, dan dia menasehati agar aku benar-benar menjaga vaginaku, terutama saat haid. Hari pertama haid, ibu yang memasangkan pembalut sambil menerangkan bagaimana cara memasang yang benar. Berikutnya, ibu mengharuskan ku untuk bisa memasang pembalut sendiri. Waktu itu, aku selalu mengangkang di depan kaca jika memasangnya, khawatir meleset. Hanya begitu saja. Tak pernah aku betul-betul teliti mengamati vaginaku.

 

Sampai hari ini, saat aku baru duduk di SMU, penasaran menyelubungi perasaanku. Aku melamun saat sarapan, juga setelah duduk di kelas. Pkiranku membayang pada "perlakuan" mbak Shinta pada vaginaku, pada memekku. Aku membayangkan memekku: bulu-bulu halus yang tumbuh, bibirnya yang merah bercampur coklat, gundukannya, lendirnya, baunya yang kadang pesing kadang amis... Iiih...bagaimana mbak Shinta kok bisa asyik dan tampaknya sangat menikmati menjilat, ngemut dan menghisap memekku? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain. Tubuhku agak gemetar, kerongkonganku kering, dan memekku terasa berdenyut-denyut. Agak basah rasanya. Di sekelilingku, teman-teman tampak sibuk sendiri. Ada yang mencatat di buku, ada yang ngobrol pelan-pelan, ada yang bencanda, sementara ketua kelas mencatat sesuatu di white board. Pak Guru yang berkacamata tebal tampak sibuk sendiri di mejanya.

 

Aku pun kembali menenggelamkan lamunanku pada "pengalaman pertama" tadi subuh. Rasa isengku lalu muncul. Memekku makin berdenyut-denyut, membuat aku menggerakkan kedua pahaku. Membuka, menutup, membuka, menutup. Geli rasanya, tapi aku terus menggerakkan kedua pahaku, pelan-pelan. Badanku terasa hangat, geli dan geli di selangkanganku semakin membuat ketagihan! Sampai akhirnya...tubuhku agak menegang, nafasku agak sesak, dan selangkanganku serasa mendenyut semakin kuat dan semakin basah. Aku menggigit bibir, dan beberapa kejutan aneh terasa di selangkangan dan menyebar ke lutut dan sendi-sendiku! Tubuhku segera lemas, dan tanpa kusadari tanganku mencengkeram tasku! Aneh, denyutan beberapa kali di memekku tadi terasa enak sekali, sampai nyaris aku kehilangan kesadaran beberapa saat.

 

Kupandangi sekelilingku, masih seperti tadi setiap orang sibuk dengan diri masing-masing. Dengan hati-hati dan agak takut, aku masukkan tanganku ke dalam rok, dan meraba celana dalamku. Basah!. Kuselipkan jariku ke memekku, basaaah banget. Kusibakkan pinggiran celana dalam yang menutupi memekku, dan kubiarkan begitu sambil kuambil tisu dari tas. Dengan tisu itu, lendir yang membanjiri memekku kulap pelan-pelan. Dengan sembunyi-sembunyi, kuendus tisu itu, entah bau apa yang ada di situ. Mungkin bau lendir, sedikit pesing, dan sedikit bau keringat. Bau yang serba tipis dan samar-samar.

 

Saat istirahat, aku bertemu mbak Shinta di kantin. Sikapnya biasa saja, seolah tak pernah terjadi "sesuatu" di antara kami. Dia menyapaku seperti biasa, dan kami menikmati jajanan yang ada di situ. Kami duduk sambil menikmati cemilan dan bercerita kesana kemari. Biasalah, suasana riuh di kantin saat istirahat.

 

"Hei kok melamun, Sis?" Mbak Shinta menepuk pundakku. Aku kaget dan wajahku terasa hangat. Salah tingkah, dan pikiranku mencari-cari alasan. Tiba-tiba saja Mbak Shinta berbisik: "Gimana, enak gak? Kalo enak, tar malem lagi yah Sis..."

 

Aku segera tahu maksudnya. Aku hanya mengangguk, pelan sekali. Bel berbunyi, kami harus masuk kelas. Jam pelajaran berikutnya sangat membosankan, terlebih aku merasa tak sabar untuk "tar malem lagi" yang dibisikkan Mbak Sisca itu.


Monday, January 14, 2008
Malam pertama dengan mbak Shinta

 

Malam itu, meski capek karena kegiatan seharian, tapi badan terasa segar karena habis mandi. Aku tidur mengenakan daster dan selimut lebar. Saat membaringkah tubuh di kasur dan ranjang bertingkat bagian atas, terasa enak dan rileks sekali segenap urat dan nadiku. Meski pikiranku berkeliaran karena bingung dengan perlakuan Mbak Shinta di kamar mandi tadi, akhirnya aku tertidur juga. Bermimpi dicumbu dan dipeluk oleh Mbak Shinta. Dan memang, dalam tidur nyenyak itu, aku dikagetkan oleh sebuah sosok yang tiba-tiba sudah berbaring di sampingku, mendempek tubuhku di tingkat atas ranjang yang sempit itu. Ah, mbak Shinta, mau apa dia. Masih bingung dan tak berani menolak, aku diamkan saja.

 

Kurasakan dengus nafasnya yang tidak teratur, mendengu-dengus menerpa pipiku. Hangat rasanya. Lengannya memeluk erat tubuhku. Aku berdiam dan pura-pura tibur. Sedikit gemetaran dan sungkan, membuat aku tak berani berbuat apapun, meski sekedar menyingkirkan lengannya yang mendekapku. Pelan namun pasti, kurasakan pipinya semakin mendekat ke pipiku...dan akhirnya, cup, sebuah kecupan lembut kurasakan hangat dan basah. Bibirnya terus menempel di pipiku, dan aku tetap mendiamkannya. Sampai di sini, meski dadaku berdetak cepat, rasa ngantuk kembali menyerang, dan pelan-pelan aku kembali tertidur dalam dekapan Shinta. Entah apa yang dilakukan Shinta terhadap tubuhku di ranjang sempit itu saat aku mulai tertidur. Tiba-tiba saja aku merasa tenang dan damai dalam tidurku. Terasa dilindungi dan diayomi, terlebih dekapan itu terasa kian hangat dan menentramkan.

 

Mungkin sudah menjelang subuh, ketika aku tiba-tiba terbangun. Aku merasakan sesuatu yang aneh di selangkanganku! Pelankubuka mataku tanpa bergerak. Aku menatap langit-langit ruangan, dan mencoba mengenali apa yang kurasakan di selangkanganku. Pelan-pelan kesadaranku pulih, dan....ach...aku merasakan geli di selangakanganku! Kuangkat sedikit kepalaku, dan tampaklah sesuatu yang menonjol di bawah selimut di bagian selangkanganku! Mbak Sisca!!! Dia membenamkan kepalanya di selangkanganku, menjilat dan ngemut memekku!!! Duh, risi dan nyeri rasanya. Aku tak berani ngapa-ngapain. Aku diamin saja, sambil mataku terpejam. Tiba-tiba, lengan mbak Shinta merangkul kedua pahaku dari arah luar, dan tangannya perlahan naik menuju tetekku. Lagi, aku tak berani menepis sama sekali. Dan bra-ku pun disingkapnya, tetekku segera disambar oleh kedua tangannya. Aku merasakan sensasi asing atas-bawah, tetek-memek. Aku pasrah, dan mataku terus terpejam. Perlahan, emutan di memekku terasa geli dan geli, dampai aku menggigit bibir. Remasan lembut di tetekku juga terasa geli, dan debaran dadaku semakin kencang.

 

Aku berbaring pasrah, saat pahaku semakin terangkat dan telapak kakiku menjulang ke atas dengan masih tertutup selimut lebarku. Mbak Shinta semakin membenamkan kepalanya di selangkanganku, dan kurasakan mulut dan bibirnya seolah ingin melumat seluruh memekku. Lidahnya liar menjelajahi setiap bagian memekku. Aku menahan diri untuk tidak merintih. Sampai...aku merasa tubuhku ringan dan panas, serasa terbang, serasa tak jejak di kasur ini. Aku menggigit bibir seiring tubuh tiba-tiba lemas dan tenganku mencengkram bibir kasur...

 

Aku tertidur setelah bengong beberapa saat, dan ketika paginya terjaga, wajah mbak Shinta masih menempel di memekku. Dia tertidur di situ. Pelan-pelan, kurasakan tubuhnya bergerak, dan dia bangun. "Oh, udah bangun, Sayang?" sapanya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Setelah berbenah, kami pelan-pelan bangun, sedikit mendahului teman-teman asrama lain. Kami membereskan ranjang itu, dan bergantian menuruni tangganya, menjejak lantai. Untunglah, ranjangku terletak paling ujung di sebelah dinding, dan lampu tidur memang Cuma remang-remang. Teman yang tidur di ranjang tingkat persis di sebelahku tampak masih pulas di balik selimutnya. Ah, mudah-mudahan tak ada yang menyaksikan aksi mbak Shinta subuh tadi. Terselip kekhawatiran di hatiku.

 

Bengongku tersentak oleh kecupan mbak Shinta di bibirku. Agak lama, sambil dia memelukku. Ih...bukankah dia tadi habis melumat memekku? Dia mengecupku, sama saja dengan aku mengecup memekku sendiri melalui bibirnya? Ah sudahlah. Kami beranjak untuk bersiap mandi pagi. Beberapa ranjang teman-teman di sebelah sana memang tampak mulai bergerak, menandakan penghuninya mulai bangun. Pelan namun pasti, mulai terdengar suara gerundelan orang bangun tidur.

 

Aku melewati "pengalaman pertama" itu dengan berusaha bersikap biasa. Seperti sikap mbak Shinta yang seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Sunday, January 06, 2008
Kembali dari pengasingan

Apa kabar semua?

Kedengarannya sangar ya? Kembali dari pengasingan, kayak tahanan politik aja. Ya, sejak postingan saya yang terakhir, saya menyepi dan mengasingkan diri di sebuah tempat. Tanpa hp dan internet. Hanya sebuah pondok sederhana dengan alam yang masih asli. Enak untuk merenung dan meditasi.

Beberapa cerita sudah saya rampungkan, hanya saja masih perlu diedit dan disesuaikan untuk saya posting di blog ini. Harap bersabar ya? Saat saya kembali, dan membuka blog ini, ternyata sudah ada beberapa komentar dari pengunjung. Saya senang, tentu saja. Dan terima kasih banyak untuk kalian.

Kali ini, saya baru ingin menyapa kalian semua. Selamat menempuh era baru 2008.

salam

--sisca--


Tuesday, December 18, 2007
Di Asrama Itu...

--Kawan-kawan, seperti yg telah kujanjikan, aku akan memulai ceritaku. Satu per satu, tahap per tahap. Kalian boleh suka, boleh juga enggak. Aku hanya pengen menulis, dan berbagi--

Hari itu--entah berapa tahun lalu--menjadi hari terindah. Aku di antar kedua ortu ke sebuah asrama. Sebuah tonggak kehidupan baru akan aku jalani. Hidup di asrama, dengan aktivitas beragam dan terjadwal, dan teman-teman yang banyak. Ini memang impianku, karena usia selepas SMP kurasa cukup untuk lepas dari keluarga. Meski, tentu saja, tak kan lepas sepenuhnya. Paling tidak, aku sudah bisa mulai berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang baru.

Riang dan bersemangat, itulah hari-hari awalku. Aku segera punya teman banyak. Persiapan masuk sekolah kami lakukan bersama-sama, dengan bantuan kakak senior. Kegiatan ekstra di asramapun dimulai untuk anak-anak baru. Ada paduan suara, olahraga bola volley, badminton, menari, beladiri, dan juga giliran regu masak. Aku sangat menyukai suasana baru kehidupanku.

Sampai, pada minggu kedua, penghuni baru harus menjalani ritual rutin, semacam "plonco", yang sudah berjalan sejak dulu. Kami diberi jaminan, acara itu tidak akan menjadi ajang kekerasan atau balas dendam. Mental kami, kata senior, akan dilatih dan dibentuk agar mampu menghadapi tantangan kehidupan. Yah, terdengar memotivasi. Kami para penghuni baru diwajibkan menggantung kertas bertuliskan nama jelek masing-masing. Nama itulah yang berlaku selama plonco. Malam-malam, kami harus berbaris dan merayap di lapangan, kemudian berbaris dengan mata ditutup, dan digiring ke suatu tempat. Ketika tutup mata dibuka, kami telah berada di sebuah gudang yg remang-remang, dan beberapa sosok warna putih terlihat bergentayangan. Kami menjerit karena kaget dan ketakutan. Sampai lampu menyala, barulah terlihat wajah kakak-kakak kelas kami. Mereka tersenyum, dan menenangkah kami. Yah, begitulah beberapa permainan mendebarkan yang mengisi acara "plonco" kami.

Shinta, seorang senior yang begitu baik, suatu malam menjadi koordinator kegiatan. Malam itu, kami disuruh mencebur ke kolam ikan yang sedang digali. Kami beramai-ramai disuruh mengangkat lumpur ke atas, sambil mengeruk untuk menambah kedalamannya. Tubuh kami berlepotan lumpur, tapi kami bekerja dengan riang. Beberapa anak manja yang terlihat ogah-ogahan, dihukum merayapi lumpur. Setelah pekerjaan kami dinilai cukup, mbak Shinta memberi aba-aba untuk berbaris. Dengan tubuh berlepotan lumpur, kami berbaris berjajar, dan menyanyi. Ah, ada-ada saja. Pengelola asrama tampil dan menyampaikan wejangan dan nasehatnya. Sebagian teman terlihat sudah menguap dan mengantuk. Untunglah, tak lama, acara pun selesai. Kami diperintahkan untuk segera mandi dan istirahat.

Sekoyong-konyong, mbak Shinta menepuk bahuku. Aku dan seorang teman diminta tetap tinggal di sekitar kolam. Kulihat di sekeliling, beberapa orang teman juga tampak masih tinggal dengan seorang senior.

"Kalian hebat," kata Shinta. Lalu dia mengatakan, kalau beberapa dari kami tampak lebih bersemangat dari teman-teman lain. Rupanya para senior itu sengaja mengumpulkan beberapa dari kami, untuk pengkaderan selanjutnya. Hanya saja, keanehan kurasakan ketika teman-teman lain sudah bubar, aku sendiri masih ditahan oleh Shinta. "Sis, aku juga kepengen mandi, ayo mandi sama-sama," ajaknya. Aku kaget. Kalau mandi bareng teman-teman seangkatan dalam satu kamar mandi, sudah biasa. Tapi dengan seniorku?

Tanpa banyak tanya, aku ikuti langkahnya. Kamar mandi di asrama berderet panjang, dan Shinta mengajakku ke kamar mandi paling ujung. Aku tak bisa berkata-kata, saat dia langsung melepas pakaiannya, dan seolah tak ada aku di situ, dia mengguyur tubuhnya dengan leluasa. Tanpa beban. Aku pun melepas pakaianku semua, agak ragu. Tiba-tiba mbak Shinta memperhatikan tubuh bugilku yang berlepotan lumpur. "Wah, banyak lumpurnya Sis," katanya sambil menyapu lumpur di tubuhku dengan telapak tangannya yang basah. Tanpa canggung, dia terus melakukan itu, sampai tangannya menjamah memekku. "Hmm, untung gak ada lumpur yang masuk sini ya Sis?" tunjuknya ke lubang memekku. Aku seperti tersihir, terpana, dan terpaku. Berdebar-debar dan keheranan.

"Kok malah bengong," ujarnya lagi. Tanpa sungkan, dia terus menghapus lumpur di daerah paha, perut dan betisku. Dan, deg!!! Dadaku berdesir saat dia memegang-megang memekku. Astaga, dia mencium memekku. Seperti tak puas, direkahkannya bibir memekku, lalu dia cium lagi. Aku bergidik dan merasa malu. Bau apa saja pasti ada di memekku setelah berkeringat, pipis, dan bekerja menggali kolam. Amis, pesing, busuk, entah apalagi. Tapi ekspresi wajah mbak Shinta malah tampak menikmati.

"Eh, kok bengong sih, ayo mandi, bau tuh memeknya," seringai Shinta segera menyadarkanku dari "sihir" aneh itu, dan masih dengan bingung, pelan-pelan aku mengguyur tubuh. Keramas, bersabun, lalu mengguyur lagi. Di kamar mandi lain pun masih kudengar suara celoteh teman-teman sambil mandi.

Setelah mengeringkan badan dan siap memakai daster tidur, Shinta menahanku. Dengan bertanya-tanya, kupandangi saja dia yang berjongkok di selangkanganku, jarinya merekahkan bibir memekku, dan menciumnya. Agak lama, dan...gila!!! Dikecupnya beberapa kali!!! "Nah, sekarang udah wangi, kan?" ucapnya menyadarkanku. Wajahku hangat karena malu. Setelah memakai daster tidur, kami keluar dari kamar mandi tanpa bicara. Seperti tidak perbah terjadi apa-apa, dia menyapa teman-teman yang sedang bersiap tidur.

Malam itu, tidurku gelisah. Di benakku berkelebat bayangan dan kebingungan. Deretan pertanyaan tak pernah habis, hingga aku terus membolak-balik badan di ranjang tingkat itu. Aku di tingkat atas, Shinta di tingkat bawah. Aku melongok ke bawah, Shinta sudah terlelap. Begitu nyenyak, begitu luwes, seolah kejadian di kamar mandi tak pernah terjadi.

Sampai akhirnya, aku bisa tertidur juga lama setelah itu. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu Shinta entah di dunia mana. Dia mencium bibirku. Dia memelukku. Tiba-tiba, aku terjaga, mendapatkan Shinta telah benar-benar memelukku di ranjang atas yang sempit...

PS: ceritaku akan dilanjutkan tahun depan, see u all...


Sunday, December 16, 2007
My Fafourite Style


Aku membutuhkan katarsis

Sederet waktu telah lewat, seuntai kehidupan tlah berlalu. Aku "hanya" membutuhkan katarsis. Ya, katarsis, saat aku merasakan bebanku terangkat, atau setidaknya sedikit berkurang.

Orang masih saja menghakimi aku sebagai abnormal. Dunia diciptakan untuk lelaki dan perempuan, begitu salah satu komentar. Maksudnya jelas, orang seperti aku tidak diperuntukkan bagi dunia ini. Lalu, di mana tempat yang layak bagiku? Apakah orang seperti aku benar-benar tak boleh ada di dunia ini?

Aku tak terlalu dungu untuk sebuah renungan. Aku telah merenung bertahun-tahun. Memikirkan dan mempertimbangkan, apakah jalan hidupku ini benar adanya. Maka, aku juga pernah pacaran sama cowok. Pernah bersetubuh dengannya, yang membuat keperawananku hilang. Aku menikmatinya, sedikit tapi. Cuma sedikit. Selebihnya, hanya bisa terpuaskan oleh kawananku, Lima Bidadari.

Aku sebenarnya tidak anti cowok. Maafkanlah posting pertamaku yang lalu, sangat emosional. Meski begitu, tak akan aku buang atau edit. Biarlah apa adanya, sebagai bentuk kejujuran.

Satu komentar dari seorang cowok, sepertinya menunjukkan simpati. "Aku tahu kamu menderita," begitu katanya. Betul, dia benar, aku sangat menderita saat ini.Beban hidupku sangat berat. Karena itu aku butuh katarsis. Butuh penyegaran, butuh pencerahan. Terima kasih untuk supportnya.

Juga, ada yang iseng. Ngajak ketemuan, aku udah tahu apa maksudnya. Sebagian besar cowok memang suka ambil kesempatan. Ngajak ketemuan untuk pura-pura menasehati dan menghibur, yang ujung-ujungnya pastilah ingin menyetubuhiku. Tidak. Tak akan! Meski aku sebenarnya tak anti cowok, tapi tipe cowok seperti inilah yang harus dihindari. Namun aku percaya, dari sekian belantara playboy di dunia, pasti ada sedikit yang benar-benar tulus.

Aku masih sendiri, kesepian, dan mencoba menegakkan kaki. Aku terus melanjutkan hidupku, dengan sederet cita-cita. Tentu, cita-cita yang sama seperti orang lain yang menganggap dirinya normal. Ingin bekerja, ingin hidup mapan, ingin dihargai. Dalam kesunyian, sambil tetap berharap menemukan kawan senasib, aku cuma bisa masturbasi untuk melepas hasratku. Sesekali, aksi eksibionist kecil-kecilan, untuk sekedar variasi. Ya, selain masturbasi dan mengocok clitorisku, aku kerap eksibisi untuk mengimbanginya. Aku sering berangkat kuliah tanpa memakai CD. Kadang agak gelisah saat duduk di kelas, karena bagian dalam jeansku yang keras dan kasar sering menggesek pantat dan memekku. Atau, aku naik sepeda pagi-pagi hanya dengan daster tanpa pake dalaman. Hawa sejuk pagi cukup menyegarkan. Hanya cara inilah yang bisa melepas hausku.

Tapi, aku tak mau dinilai murahan. Aku tetap menjaga prestasi akademik. Masih melibatkan diri di beberapa organisasi. Sayang, teman-teman cewek di organisasiku belum satu orang pun yang kukira sama arah jalannya denganku.

Yah, aku pasti akan curhat dan cerita banyak pada kalian. Kapan saja aku pekengen nulis, akan aku tuliskan. Aku perlu komen kalian. Terima kasih sebelumnya.

salam


Posted at 11:14 pm by akulesbian
 

Friday, December 14, 2007
Kawanan "Lima Bidadari"

 

"Lima bidadari" seperti menguap, ketika kami semua lulus dan mulai mencoba menemukan jati diri masing masing di kampus. Tidak lagi di asrama, pun tidak lagi satu kota. Entah kemana semua. Perpisahan tanpa komitmen apa-apa. Menghilang begitu saja, bersamaan dengan euforia kelulusan dan "keganjenan" ingin mengecap bangku kuliah. Apakah alam luar asrama, telah merubah semuanya? Kemana mereka semua? Apakah hanya aku yang terus bertanya dan mencoba mencari? Atau kah mereka telah "bertobat", seperti kata-kata orang yang sok moralis? Betapa bodohnya, mengapa waktu itu tak sempat terpikir, untuk membicarakan kelanjutan kawanan "Lima Bidadari" yang selama ini terasa indah dan bahkan tergolong cukup berprestasi di kelas. Aneh.

Aku hanya kesepian. Kesepian. Dua tahun lebih kawanan "Lima Bidadari" mencoba menjawab keingintahuan tentang hidup. Di sebuah lingkungan yang sangat mendukung. Di suasana persahabatan yang sangat mendalam. Kami belajar bersama, mencuci bersama, mandi bersama, tidur bersama, masturbasi bersama...ach!!! Getir aku mengingatnya, terlalu indah, untuk kemudian hilang begitu saja.

Masih terbayang, kami berlima saling mengocok, menghisap, menjilat, kadang agak mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi. Maklum yang namanya asrama, bukan cuma kita berlima penghuninya. Ranjang tingkat yang cuma muat berdua, dipaksakan supaya muat berlima. Pun dengan mengendap-endap, khawatir ada inspeksi mendadak pengurus asrama. Berbagai pengalaman berkesan: hampir kepergok waktu dua temanku masturbasi di kamar mandi, ngerjain siswi baru, uji nyali ke sekolah gak pake CD, memek temanku kepedasan kena cabe, macam-macam deh.

Ah, nantilah aku lanjutkan cerita ini. Aku butuh bantuan. Aku butuh dukungan. Dan aku masih mempertimbangkan, benarkah "curhat" di blog ini perlu. Aku ingin bebanku lepas. Syukur kalau malah dapat teman baru. Cewek, tentu saja. Cowok, minggir sana!!! Aku gak butuh kalian!!! Memek bagiku lebih harum dan merangsang, ketimbang kontol kalian yang jorok dan sok jantan.

Sampai nanti ya...





akulesbian
January 1st 1987  (Age 22)
Female
Jogja
::akulesbian-akukesepian-akumencarikawan::suatu waktu, aku temukan salah satu jalan, mungkin dengan membuat blog, aku dapat membangun hidupku dan memulai lagi (atau mencoba) membangun "surga indah" dalam hidupku. Aku ingin bercerita di sini. Aku ingin punya teman di sini. Aku ingin...ingin...ingin... Aku harap kalian mau mengerti aku. Datanglah, dan jadilah sahabatku. Aku akan bercerita semuanya, semuanya, semuanya...mail me:aku.lesbian@yahoo.co.id
   

<< January 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed