--aku lesbian--akukesepian--akumencarikawan--



Tuesday, December 18, 2007
Di Asrama Itu...

--Kawan-kawan, seperti yg telah kujanjikan, aku akan memulai ceritaku. Satu per satu, tahap per tahap. Kalian boleh suka, boleh juga enggak. Aku hanya pengen menulis, dan berbagi--

Hari itu--entah berapa tahun lalu--menjadi hari terindah. Aku di antar kedua ortu ke sebuah asrama. Sebuah tonggak kehidupan baru akan aku jalani. Hidup di asrama, dengan aktivitas beragam dan terjadwal, dan teman-teman yang banyak. Ini memang impianku, karena usia selepas SMP kurasa cukup untuk lepas dari keluarga. Meski, tentu saja, tak kan lepas sepenuhnya. Paling tidak, aku sudah bisa mulai berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang baru.

Riang dan bersemangat, itulah hari-hari awalku. Aku segera punya teman banyak. Persiapan masuk sekolah kami lakukan bersama-sama, dengan bantuan kakak senior. Kegiatan ekstra di asramapun dimulai untuk anak-anak baru. Ada paduan suara, olahraga bola volley, badminton, menari, beladiri, dan juga giliran regu masak. Aku sangat menyukai suasana baru kehidupanku.

Sampai, pada minggu kedua, penghuni baru harus menjalani ritual rutin, semacam "plonco", yang sudah berjalan sejak dulu. Kami diberi jaminan, acara itu tidak akan menjadi ajang kekerasan atau balas dendam. Mental kami, kata senior, akan dilatih dan dibentuk agar mampu menghadapi tantangan kehidupan. Yah, terdengar memotivasi. Kami para penghuni baru diwajibkan menggantung kertas bertuliskan nama jelek masing-masing. Nama itulah yang berlaku selama plonco. Malam-malam, kami harus berbaris dan merayap di lapangan, kemudian berbaris dengan mata ditutup, dan digiring ke suatu tempat. Ketika tutup mata dibuka, kami telah berada di sebuah gudang yg remang-remang, dan beberapa sosok warna putih terlihat bergentayangan. Kami menjerit karena kaget dan ketakutan. Sampai lampu menyala, barulah terlihat wajah kakak-kakak kelas kami. Mereka tersenyum, dan menenangkah kami. Yah, begitulah beberapa permainan mendebarkan yang mengisi acara "plonco" kami.

Shinta, seorang senior yang begitu baik, suatu malam menjadi koordinator kegiatan. Malam itu, kami disuruh mencebur ke kolam ikan yang sedang digali. Kami beramai-ramai disuruh mengangkat lumpur ke atas, sambil mengeruk untuk menambah kedalamannya. Tubuh kami berlepotan lumpur, tapi kami bekerja dengan riang. Beberapa anak manja yang terlihat ogah-ogahan, dihukum merayapi lumpur. Setelah pekerjaan kami dinilai cukup, mbak Shinta memberi aba-aba untuk berbaris. Dengan tubuh berlepotan lumpur, kami berbaris berjajar, dan menyanyi. Ah, ada-ada saja. Pengelola asrama tampil dan menyampaikan wejangan dan nasehatnya. Sebagian teman terlihat sudah menguap dan mengantuk. Untunglah, tak lama, acara pun selesai. Kami diperintahkan untuk segera mandi dan istirahat.

Sekoyong-konyong, mbak Shinta menepuk bahuku. Aku dan seorang teman diminta tetap tinggal di sekitar kolam. Kulihat di sekeliling, beberapa orang teman juga tampak masih tinggal dengan seorang senior.

"Kalian hebat," kata Shinta. Lalu dia mengatakan, kalau beberapa dari kami tampak lebih bersemangat dari teman-teman lain. Rupanya para senior itu sengaja mengumpulkan beberapa dari kami, untuk pengkaderan selanjutnya. Hanya saja, keanehan kurasakan ketika teman-teman lain sudah bubar, aku sendiri masih ditahan oleh Shinta. "Sis, aku juga kepengen mandi, ayo mandi sama-sama," ajaknya. Aku kaget. Kalau mandi bareng teman-teman seangkatan dalam satu kamar mandi, sudah biasa. Tapi dengan seniorku?

Tanpa banyak tanya, aku ikuti langkahnya. Kamar mandi di asrama berderet panjang, dan Shinta mengajakku ke kamar mandi paling ujung. Aku tak bisa berkata-kata, saat dia langsung melepas pakaiannya, dan seolah tak ada aku di situ, dia mengguyur tubuhnya dengan leluasa. Tanpa beban. Aku pun melepas pakaianku semua, agak ragu. Tiba-tiba mbak Shinta memperhatikan tubuh bugilku yang berlepotan lumpur. "Wah, banyak lumpurnya Sis," katanya sambil menyapu lumpur di tubuhku dengan telapak tangannya yang basah. Tanpa canggung, dia terus melakukan itu, sampai tangannya menjamah memekku. "Hmm, untung gak ada lumpur yang masuk sini ya Sis?" tunjuknya ke lubang memekku. Aku seperti tersihir, terpana, dan terpaku. Berdebar-debar dan keheranan.

"Kok malah bengong," ujarnya lagi. Tanpa sungkan, dia terus menghapus lumpur di daerah paha, perut dan betisku. Dan, deg!!! Dadaku berdesir saat dia memegang-megang memekku. Astaga, dia mencium memekku. Seperti tak puas, direkahkannya bibir memekku, lalu dia cium lagi. Aku bergidik dan merasa malu. Bau apa saja pasti ada di memekku setelah berkeringat, pipis, dan bekerja menggali kolam. Amis, pesing, busuk, entah apalagi. Tapi ekspresi wajah mbak Shinta malah tampak menikmati.

"Eh, kok bengong sih, ayo mandi, bau tuh memeknya," seringai Shinta segera menyadarkanku dari "sihir" aneh itu, dan masih dengan bingung, pelan-pelan aku mengguyur tubuh. Keramas, bersabun, lalu mengguyur lagi. Di kamar mandi lain pun masih kudengar suara celoteh teman-teman sambil mandi.

Setelah mengeringkan badan dan siap memakai daster tidur, Shinta menahanku. Dengan bertanya-tanya, kupandangi saja dia yang berjongkok di selangkanganku, jarinya merekahkan bibir memekku, dan menciumnya. Agak lama, dan...gila!!! Dikecupnya beberapa kali!!! "Nah, sekarang udah wangi, kan?" ucapnya menyadarkanku. Wajahku hangat karena malu. Setelah memakai daster tidur, kami keluar dari kamar mandi tanpa bicara. Seperti tidak perbah terjadi apa-apa, dia menyapa teman-teman yang sedang bersiap tidur.

Malam itu, tidurku gelisah. Di benakku berkelebat bayangan dan kebingungan. Deretan pertanyaan tak pernah habis, hingga aku terus membolak-balik badan di ranjang tingkat itu. Aku di tingkat atas, Shinta di tingkat bawah. Aku melongok ke bawah, Shinta sudah terlelap. Begitu nyenyak, begitu luwes, seolah kejadian di kamar mandi tak pernah terjadi.

Sampai akhirnya, aku bisa tertidur juga lama setelah itu. Dalam tidurku, aku bermimpi bertemu Shinta entah di dunia mana. Dia mencium bibirku. Dia memelukku. Tiba-tiba, aku terjaga, mendapatkan Shinta telah benar-benar memelukku di ranjang atas yang sempit...

PS: ceritaku akan dilanjutkan tahun depan, see u all...


Sunday, December 16, 2007
My Fafourite Style


Aku membutuhkan katarsis

Sederet waktu telah lewat, seuntai kehidupan tlah berlalu. Aku "hanya" membutuhkan katarsis. Ya, katarsis, saat aku merasakan bebanku terangkat, atau setidaknya sedikit berkurang.

Orang masih saja menghakimi aku sebagai abnormal. Dunia diciptakan untuk lelaki dan perempuan, begitu salah satu komentar. Maksudnya jelas, orang seperti aku tidak diperuntukkan bagi dunia ini. Lalu, di mana tempat yang layak bagiku? Apakah orang seperti aku benar-benar tak boleh ada di dunia ini?

Aku tak terlalu dungu untuk sebuah renungan. Aku telah merenung bertahun-tahun. Memikirkan dan mempertimbangkan, apakah jalan hidupku ini benar adanya. Maka, aku juga pernah pacaran sama cowok. Pernah bersetubuh dengannya, yang membuat keperawananku hilang. Aku menikmatinya, sedikit tapi. Cuma sedikit. Selebihnya, hanya bisa terpuaskan oleh kawananku, Lima Bidadari.

Aku sebenarnya tidak anti cowok. Maafkanlah posting pertamaku yang lalu, sangat emosional. Meski begitu, tak akan aku buang atau edit. Biarlah apa adanya, sebagai bentuk kejujuran.

Satu komentar dari seorang cowok, sepertinya menunjukkan simpati. "Aku tahu kamu menderita," begitu katanya. Betul, dia benar, aku sangat menderita saat ini.Beban hidupku sangat berat. Karena itu aku butuh katarsis. Butuh penyegaran, butuh pencerahan. Terima kasih untuk supportnya.

Juga, ada yang iseng. Ngajak ketemuan, aku udah tahu apa maksudnya. Sebagian besar cowok memang suka ambil kesempatan. Ngajak ketemuan untuk pura-pura menasehati dan menghibur, yang ujung-ujungnya pastilah ingin menyetubuhiku. Tidak. Tak akan! Meski aku sebenarnya tak anti cowok, tapi tipe cowok seperti inilah yang harus dihindari. Namun aku percaya, dari sekian belantara playboy di dunia, pasti ada sedikit yang benar-benar tulus.

Aku masih sendiri, kesepian, dan mencoba menegakkan kaki. Aku terus melanjutkan hidupku, dengan sederet cita-cita. Tentu, cita-cita yang sama seperti orang lain yang menganggap dirinya normal. Ingin bekerja, ingin hidup mapan, ingin dihargai. Dalam kesunyian, sambil tetap berharap menemukan kawan senasib, aku cuma bisa masturbasi untuk melepas hasratku. Sesekali, aksi eksibionist kecil-kecilan, untuk sekedar variasi. Ya, selain masturbasi dan mengocok clitorisku, aku kerap eksibisi untuk mengimbanginya. Aku sering berangkat kuliah tanpa memakai CD. Kadang agak gelisah saat duduk di kelas, karena bagian dalam jeansku yang keras dan kasar sering menggesek pantat dan memekku. Atau, aku naik sepeda pagi-pagi hanya dengan daster tanpa pake dalaman. Hawa sejuk pagi cukup menyegarkan. Hanya cara inilah yang bisa melepas hausku.

Tapi, aku tak mau dinilai murahan. Aku tetap menjaga prestasi akademik. Masih melibatkan diri di beberapa organisasi. Sayang, teman-teman cewek di organisasiku belum satu orang pun yang kukira sama arah jalannya denganku.

Yah, aku pasti akan curhat dan cerita banyak pada kalian. Kapan saja aku pekengen nulis, akan aku tuliskan. Aku perlu komen kalian. Terima kasih sebelumnya.

salam


Posted at 11:14 pm by akulesbian
 

Friday, December 14, 2007
Kawanan "Lima Bidadari"

 

"Lima bidadari" seperti menguap, ketika kami semua lulus dan mulai mencoba menemukan jati diri masing masing di kampus. Tidak lagi di asrama, pun tidak lagi satu kota. Entah kemana semua. Perpisahan tanpa komitmen apa-apa. Menghilang begitu saja, bersamaan dengan euforia kelulusan dan "keganjenan" ingin mengecap bangku kuliah. Apakah alam luar asrama, telah merubah semuanya? Kemana mereka semua? Apakah hanya aku yang terus bertanya dan mencoba mencari? Atau kah mereka telah "bertobat", seperti kata-kata orang yang sok moralis? Betapa bodohnya, mengapa waktu itu tak sempat terpikir, untuk membicarakan kelanjutan kawanan "Lima Bidadari" yang selama ini terasa indah dan bahkan tergolong cukup berprestasi di kelas. Aneh.

Aku hanya kesepian. Kesepian. Dua tahun lebih kawanan "Lima Bidadari" mencoba menjawab keingintahuan tentang hidup. Di sebuah lingkungan yang sangat mendukung. Di suasana persahabatan yang sangat mendalam. Kami belajar bersama, mencuci bersama, mandi bersama, tidur bersama, masturbasi bersama...ach!!! Getir aku mengingatnya, terlalu indah, untuk kemudian hilang begitu saja.

Masih terbayang, kami berlima saling mengocok, menghisap, menjilat, kadang agak mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi. Maklum yang namanya asrama, bukan cuma kita berlima penghuninya. Ranjang tingkat yang cuma muat berdua, dipaksakan supaya muat berlima. Pun dengan mengendap-endap, khawatir ada inspeksi mendadak pengurus asrama. Berbagai pengalaman berkesan: hampir kepergok waktu dua temanku masturbasi di kamar mandi, ngerjain siswi baru, uji nyali ke sekolah gak pake CD, memek temanku kepedasan kena cabe, macam-macam deh.

Ah, nantilah aku lanjutkan cerita ini. Aku butuh bantuan. Aku butuh dukungan. Dan aku masih mempertimbangkan, benarkah "curhat" di blog ini perlu. Aku ingin bebanku lepas. Syukur kalau malah dapat teman baru. Cewek, tentu saja. Cowok, minggir sana!!! Aku gak butuh kalian!!! Memek bagiku lebih harum dan merangsang, ketimbang kontol kalian yang jorok dan sok jantan.

Sampai nanti ya...


Previous Page



akulesbian
January 1st 1987  (Age 22)
Female
Jogja
::akulesbian-akukesepian-akumencarikawan::suatu waktu, aku temukan salah satu jalan, mungkin dengan membuat blog, aku dapat membangun hidupku dan memulai lagi (atau mencoba) membangun "surga indah" dalam hidupku. Aku ingin bercerita di sini. Aku ingin punya teman di sini. Aku ingin...ingin...ingin... Aku harap kalian mau mengerti aku. Datanglah, dan jadilah sahabatku. Aku akan bercerita semuanya, semuanya, semuanya...mail me:aku.lesbian@yahoo.co.id
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed