--aku lesbian--akukesepian--akumencarikawan--



Friday, December 26, 2008
Apa kabar

Kawan2, pa kabar semua
duh, maaf banget, begitu lama blog ini kaga keurus
maklum, aku punya seabreg kegiatan yang cukup menyita waktu dan pikiran
barusan aja ada waktu luang, dan aku menengok blog ini
hem... beberapa komen yang masuk kayaknya baru-baru ini
syukurlah, beberapa temen masih rajin berkunjung
senang sih banyak yang ngasih support
tapi jengkel juga sama yang sok jaim, sok suci, tapi mau2nya masuk ke blog beginian
tapi udahlah, terserah
yang jelas, aku mau menebus rasa bersalah sama temen2 yg selama ini rajin ke blog
aku udah siapin beberapa cerita
dalam waktu dekat akan aku psotingin deh
see u..

me, sisca

Saturday, May 03, 2008
Obrolan Pasca Eksekusi

Kami masih terbaring, terengah-engah, ngos-ngosan. Menatap langit-langit kamar, sambil menikmati sisa-sisa orgasme yang masih senut-senut di selangkangan.

"Gila, gimana kok kita bisa kayak gitu tadi..." katanya dengan suara menggantung. Aku diam saja, masih menikmati sisa-sisa sensasi yang tak terkatakan nikmatnya.

Kami cuma mengenakan atasan. CD kami belum lagi di pasang. Kami masih terbaring dengan keringat membasahi tubuh. Hembusan kipas angin terasa membelai memek yang basah.

"Kamu menyesal?" tanyaku. Tak terdengar jawabannya, selain tarikan nafasnya yang belum teratur. Kuraba selangkangannya, dia tak menepis. Kutoleh ke samping, matanya masih menerawang, seolah menembus langit-langit.

"Ah, gila, gila..." lagi suaranya, seperti berbisik. Tapi aku memeluknya perlahan. Membelai rambutnya, dan mengusap memeknya. Kami kembali bergumul, bergumul, sampe lecek, dan kamarku dipenuhi aroma erotis dari selangkangan kami berdua...


Tuesday, February 12, 2008
Check In, gimana rasanya ya?

Putri datang ke kostku suatu sore. Tumben, tanpa sms duluan. Aku sedang santai di depan komputer, menyetel lagu dan melihat-lihat pic koleksiku. Pas dia masuk, pic seperti yang diatas sedang kubuka. Aku sama sekali tak berniat menutupnya, biarlah Putri melihatnya juga.

"Hai...wah pasti lagi melonjor nih, melamun jorok, hahaha..." komentarnya. Aku cuma tersenyum. Sore ini, aku berbusana lengkap, meski serba mini. Atasan, aku cuma pake tank-top, meski tak pake bra. Bawah, aku cuma pake celana pendek sangat mini dan ketat, tanpa CD, sehingga gundukan memekku jelas terlihat.

"Gambar apa nih? Gilak, cewek sama cewek ya?" ia menjawab sendiri. "Iya nih, check in di hotel," lanjutku. Kami lalu sama-sama mengamati foto yang kuperoleh dari internet itu. Sepasang cewek lesbian sedang berpelukan di kamar hotel.

"Kasian aku ya, Put, belum pernak check in di hotel, sekali pun belum pernah," pancingku, sambil berdiri dan menghidupkan televisi. Lalu aku duduk di pinggiran ranjangku, agak mengangkang sedikit. Putri menyusul duduk di sampingku.

"Check in gimana maksudnya?" tanya Putri. Ah, aku tau dia sebenarnya sering aja check in sama cowoknya di hotel atau losmen. "Kamu gak pernah, Put?" balasku. Putri menahan senyum, lalu berkata: "Ya gak sering banget sih. Cowokku lebih senang main di kost, soalnya kalo check in cuman untuk momen khusus, kayak valentine, gitu.." cerocosnya lalu disambung tertawa pelan.

"Aku pengen ngerasain check in di hotel atau losmen, kapan-kapan, yah buat menyendiri gitu. Di kaliurang mungkin enak yah," pancingku lagi. "Ya ela...lo mau check in, sendirian, mau ngapain? Paling melonjor, melamun jorok hahaha...," timpal Putri. "Kalo gitu, kamu yang nemenin mau gak? Biar gak aneh, mosok check in sendirian?" tantangku. Sejenak putri terdiam, seperti berpikir, tapi tak lama senyumnya mengembang lagi. "Ah...mau kayak yang di foto itu ya," tebaknya. Buset juga nih orang, malah aku yang blingsatan jawabnya. "Hmm...emang kalo ngelakuin kayak yang digambar itu, kenapa? Takut? Takut hamil?" serangku. "Haha...siapa takut?!" tantangnya. Buset, i've make a great move!

"Kalo gak takut, ngapain repot-repot check in segala, di kamarku aja bisa," balasku sambil langsung merangkulnya dan merebahkan tubuh kami di kasurku. Biar gak terlalu kentara, aku masih sok ja'im gitu. Cuma merangkul sambil berbaring dan berdiam. Tiba-tiba dia meraba selangkanganku, dan jari-jarinya menempel di gundukan memekku. Aku diamkan saja. "Sis, udah berapa hari habis dicukur, biasanya mulai tumbuh lagi loh," katanya. "Oh iya, emang udah mulai tubuh dikit, bikin gatel aja," jawabku.

Putri bangun dan tanpa permisi, dipelorotkannya celana hitam miniku itu, sampai melewati kedua kakiku dan terlepas. "Wah, harus digunduli lagi nih hahaha," ujarnya sambil berjongkok di selangkanganku. Aku pasrah...apapun yang dia lakukan di memekku. Perlahan aku semakin mengangkangkan kedua pahaku. Putri mengusap-usap gundukan memekku yang mulai ditumbuhi bulu setelah dicukurnya beberapa hari lalu. "Iya, udah mulai tumbuh, tajam-tajam lagi," katanya. Memekku terasa senut-senut. Terasa kedua jempolnya menempel di kedua bibir memekku, dan pelan-pelan kurasakan Putri sedang merekahkan bibir memekku. Aku menikmatinya sambil memejamkan mata. Telunjuknya terasa menyentuk klentitku, dan beberapa saat dia memutar-mutar jarinya di situ! Aku makin horni dan senut-senut merasakan sensasi sentuhannya!

"Gila Sis, memek lu bagus banget, masih rapet!" Ucapannya membuyarkan kenikmatanku, tapi aku biarkan saja apapun yang dia lakukan. Terasa hidungnya mengendus-endus memekku yang sedang direkahnya, ooow...nikmat! "Nah, baunya juga enak, Sis, gak bacin gitu," katanya seraya bangkit dan menghentikan "mengerjai" memekku. Dia duduk di sampingku yang masih berbaring terengah-engah. Sial, dia malah berhenti saat aku sedang nikmat-nikmatnya. "Kata orang sih, kalo memek jarang dimasukin kontol, baunya enak. Eh, nyatanya bener," lagi komentarnya sambil tersenyum.

"Masak sih, Put?"

"Lah iya la Sis."

"Emang memek kamu gimana baunya?"

"Hehe, sering dimasukin dan dimuntahin sih, jadinya biar dibersihin gimana pun, masih suka bacin-bacin gitu."

"Masa sih, coba kulihat," kali ini aku yang segera bangkit dan tanpa basa-basi memelorotkan celana Putri. Setelah CD-nya pun terlepas, DEG! Dadaku berdegup, karena baru kali ini aku melihat memek Putri. Pelan-pelan kudorong tubuhnya sampai telentang di kasur, dan kukangkangkan kakinya. Terasa Putri masih risih dan malu-malu. Setelah memeknya yang tembem tersuguh di wajahku, aku segera merekahkannya. Mengendus dan menghirup aromanya. Hem...memang agak bacin bercampir pesing dikit. Aku mainkan telunjukku di klentitnya, astaga, lobang di bawah klentitnya memang sudah menganga. Aku colokkan jariku di lobang itu dan kuobok-obok. Terasa tubuh Putri bergerak, dia mengangkat kepalanya untuk menatap perlakuanku. Aku tengadah, dan mendapatkan wajahnya seperti malu-malu dan agak kaku.  

Ah, bodo amat, bathinku, makanan udah di depan mata, kenapa tidak kulahap? Dengan sebelah tanganku, aku mendorong perutnya sehingga Putri kembali terbaring. Kemudian aku mengendus-endus, mencium-cium dan menikmati aroma yang sangat merangsang. Jari-jariku mulai memutar-mutar di bagian dalam bakpao itu. Dan dengan mengumpulkan keberanian, aku mulai menjilat rekahan itu. Terasa tubuh Putri tersentak kaget, tapi aku teruskan saja. Menjilat, menjelajah setiap rongga memeknya dengan lidahku, memain-mainkan klentitnya, lalu menyedotnya dengan bibirku. Kurasakan sedikit penolakan dari Putri. Dia mendorong-dorong kepalaku, seperti ingin melepaskan diri. Itu pula yang semakin memacu kegilaanku untuk terus menjilat dan menghisap memeknya. Sampai, cengkeramannya di rambutku melemas, pahanya tiba-tiba memiting leherku, dengusan nafasnya menderu, dan rintihan terdengar pelan, lalu lemas. Memeknya basah dan bajir, ah...nyampe juga dia akhirnya.

Aku bangkit, menatap wajahnya yang juga menatapku sambil tetap berbaring. Tatapannya datar, seperti bingung. Aku berbaring di sebelahnya, sambil memeluknya. "Gila Sis, aku baru kali ini loh sama cewek..." Sebelum dia melanjutkan, aku segera bilang, "Curang, kamu yang enak, aku yang menderita, aku juga pengen!" Lalu seperti disihir, Putri bangun, dan menguak selangkanganku dengan ragu. Saat dia masih mengendus-endus memekku, dengan sekali jambakan di rambutnya, wajahnya sudah terbenam di memekku...

Sore mengeluh lembut...

 


Sunday, February 03, 2008
Yummy

hem...yummy...


Thursday, January 31, 2008
Mencoba sensasi di bis

Ach...pagi-pagi udah horny lagi nich. Padahal tadi malem udah ngocok sambil nelpon temen (ada deh...). Dia sampe kaget waktu aku jerit-jerit pas orgasm, yah kubilang aja kaget ma cicak yang jatuh (hmmm...great move, kan?). Kenapa yach, aku selalu membayangin putri (masih ingat kan?). Kenapa dia spontan aja mau nyukurin jembut memekku, dan sebenarnya memang itu yang kumau. Padahal jelas dia punya cowok. Apa suatu saat aku bisa melepas semua hasratku sama dia, suatu saat? Seorang netter yang simpatik sama aku, menuliskan komen, kalo Putri bisa diolah. Yup, akan "kuolah" dia, mudah-mudahan berhasil. Aku jadi falling in love sama dia, peduli amat dia punya cowok!

Pagi ini pas baru bangun, kok tiba-tiba langsung horny, mungkin karena kepikiran sama dia terus. Ketimbang uring-uringan, aku bangun masih dengan berbugil ria dan membuka jendela, menyibakkan gorden, dan menyetel musik. Setelah itu, aku kembali berbaring di kasur, mengangkang, dan ngocok lagi. Pagi ini aku ingin teriak sekuat tenaga. Sambil jari terus mengocok kelentitku, memejamkan mata membayangkan bercinta dengan Putri...terus...terus...sampai rasanya semua sendiku hendak lepas, dan aku menjerit keras dipagi buta! Uuuh...lepas, lega, puas. Setelah berbaring berdiam menetralkan perasaan, aku bangun dan langsung mandi. Segar, sejuk, dan ringan.

Pagi ini aku ingin mengenakan rok, ingin tampil feminim. Dan, aku gak mau mengenakan CD dan juga BH. Biar gak kentara, aku kenakan kaos dalam. Setelah menyambar tas, mengunci pintu, aku melangkah di tengah pagi yang sejuk. Setelah menuruni tangga, Yeni yang tampak baru bangun dan membereskan kamar menyapa. "Sis, kayaknya tadi kamu teriak, kenapa?" Hmmm, gila juga, kedengaran sampai ke bawah rupanya. "Ah nggak, biasalah lagi mumet," kelitku.

Angin pagi yang segar dan sejuk berhembus, melewati rokku, mengelus selangkanganku. Duh, seger banget, dan aku sangat menikmatinya. Pagi ini angkot pasti rame, terutama anak SMU. Melihat penampilan mereka yang sepertinya culun, seger, dan ceria, gairah selalu muncul. Sejak aku jadi mahasiswi, memang belum pernah bercinta dengan cewek SMU, mungkin suatu saat bisa kucoba (kecuali gank-ku waktu SMU dulu). Nah, betulkan, bus itu udah berisi anak-anak SMU yang imut-imut. Aku segera naik, dan ikut berdiri berhimpit-himpitan dengan mereka. Ah, sialan, beberapa cowok malah tak mau minggir. Biar terkesan "alami" dan gak sengaja, aku menantikan saat sopir menginjak pedal rem, dan badan terhuyung ke depan. Benar, saat penumpang melambai, bus berhenti mendadak dan tubuhku merapat ke depan. Toketku kutempelkan ke punggung salah seorang dari cewek itu. Wangi tubuhnya menyeruak, dan aku merasakan kehangatan. Tak terasa gerakannya yang menjauh. Malah, terasa justru punggungnya yang pelan-pelan semakin merapat ke toketku, atau kah hanya perasaanku saja? Aku nikmati terus sensasi ini berulang-ulang saat bus ngerem. Toket mungin cewek di belakangku pun kadang menumbuk punggungku. Waw, depan belakang hangat.

Sial, tak lama setelah kehangatan depan belakang itu, seseorang memberi komando, dan bus berhenti. Segerombolan cewek-cewek imut itu turun, udah nyampe ke sekolah. Ada satu kursi di sebelah pintu masuk yang kosong, terpaksa aku duduk di situ. Di sebelahnya, masih ada cowok yang tadi tadi memelototiku. Ah, biar aja, terpaksa aku duduk di sampingnya karena hanya itulah satu-satunya kursi kosong. Tiba-tiba, timbul niatku untuk ngerjain cowok bego ini. Karena duduk di sebelah pintu, maka saat bus melaju, angin berhembus masuk dan telak masuk ke dalam rokku dan menghantam memekku. Segar sekali, dan menggairahkan. Kedua pahaku agak kurenggangkan, dan angin membuat rokku tersibak-sibak tertiup angin. Dengan sudut mataku, tampak cowok bego itu menatap pahaku yang terbuka. Dia bengong dan tak berkedip. Tunggu saatnya, akan kukerjain beneran!

Dengan gerakan tiba-tiba, aku menoleh ke wajahnya. "Kenapa dik?" tanyaku dengan wajah sengaja agak digalakkan. "Ah..eh..anu...gak kok mbak," jawabnya gugup. "Lihat apa tadi?" serangku berbisik. Lucu juga ekspresi gugupnya. "Ng..gak kok mbak, nggak liat apa-apa." "Ah, jangan bohong kamu, kamu tadi lihat ini kan?" agak kuangkat pahaku sehingga rokku mengerut ke atas, menampakkan pahaku. Dia makin gugup sambil menatap pahaku. Kudekatkan mulutku ke telinganya, dan kubisikkan setengah membentak: "Gak seru kalo cuma lihat. Pegang!" Seperti dihipnotis, tangannya segera memegang paha kiriku. Baru sebentar, pura-pura kutepis. "Gak seru. Kamu pindah ke sini," perintahku masih dengan berbisik. Kami tukar posisi, dia berdiri, dan aku menggeser pantat ke sebelah dinding. Setelah dia duduk lagi, aku mengangkat lutut kananku. Dia tampak ragu-ragu, dan sorot mataku memerintahnya. Seperti mengerti, kembali telapak tangan kirinya menempel di paha kananku bagian dalam. Ah, nanggung, dikit lagi kena memekku. "Masuk lagi," bisikku. Segera jari-jarinya pas menyentuh permukaan memekku. Karena tak ada gerakan, kubisikkan lagi: "Masukin jarinya, cepeten." Tanpa berlama-lama, beberapa jarinya terasa mengorek-ngorek klitorisku. Aha...lumayanlah, sambil juga menikmati hembusan angin. Biar tak terlalu kentara, tasku kuletakkan di pangkuanku, aman, tangannya yang sedang mengutak-atik di dalam rokku tak akan kelihatan. Bus terus melaju, sensasi unik pun "melaju" di selangkanganku! Sementara di sekelilingku, penumpang lain sibuk sendiri berseloteh ke sana ke mari. Kulirik pangkuannya, wah menonjol, pasti lagi ereksi dia!

Mungkin karena sensasi unik yang baru saja aku coba, aku cepat turn-on, dan...akhirnya...aku orgasm lagi. Memekku terasa becek, dan jari-jari bego ituseperti masih betah di sana. Tiba-tiba, wajahnya berubah, seperti kebingungan. "Kenapa?" bisikku. "Eh anu, sekolahku kelewatan mbak," katanya sambil cepat-cepat menarik tangannya dari selangkanganku. Terburu-buru dia bangkit dan menyetop bis, lalu turun dengan wajah memerah. Setelah dia turun, bis melaju lagi. Dari kaca, aku menoleh ke arahnya. Tampak dia melangkah setengah berlari sambil mencium-cium jarinya yang dipake buat mengobok memekku tadi, hahaha...dasar bego, rasain lo!


Sunday, January 27, 2008
What lesbian want...

... a woman knows how to touch another woman's body better than any man, because she already knows all its secrets.
souce: http://filipinolesbian.blogspot.com/


Tuesday, January 22, 2008
Horny sendirian

Aku ingin menyela kisahku sebentar. Sambil terus menuiskan kisah-kisahku untuk diposting ke blog ini, aku senang sudah ada beberapa rekan milis yang mampir dan menuliskan komentar. Begaram komentar tentu saja. Dan aku enjoy-enjoy ajah dengan semua itu. Aku mulai merasakan bebanku agak berkurang sekarang. Ada beberapa yang masih saja "menghakimi" aku sebagai salah, dan meminta kembali ke jalan yang benar. Lalu jalan yang benar itu seperti apa? Tentu saja, seperti yang dia pikirkan. Sementara aku juga punya pikiran sendiri. Sudahlah, aku tak mau berdebat tentang itu.

Kadang aku membuka-buka koleksi pic nude yang ada di komputerku. Kemudian membaca-baca kisah lesbi di blog lain. Atau menulis lanjutan kisahku untuk di-posting di blog ini. Eh, sampe horny juga kadang...hehe... Kebiasaanku memang senang bertelanjang-ria kalo pas di kost. Ada kepuasan tersendiri rasanya melakukan segala hal di kost tanpa dikekang sehelai benang pun! Kusadari memang bibit eksibionist memang ada bertahta dalam diriku. Dan aku menikmatinya. Aku melalukan apapun di kost tanpa selembar pakaianpun. Bertelanjang-ria saat mengetik, belajar, nonton TV, memasak (kadang aku masak sendiri), apalagi kalo tidur, hanya ditutupi selimut tipis. Kalau harus sedikit keluar ruangan, misalnya mencuci dan menjemur pakaian, aku hanya mengenakan daster tipis tanpa CD dam BH.

Tetangga kostku pun biasa main-main ke tempatku. Diantaranya, kebetulan namanya Shinta juga (mengingatkanku sama "pacarku" dulu, Mbak Shinta). Hanya sayangnya dia bukan lesbi. Selain Shinta, ada Maya, Putri dan Yeni. Kadang mereka bersama-sama atau sendiri-sendiri main ke kostku, kami nonton TV bareng, bikin rujak, ngerumpi, kadang diskusi dan surfing internet di kamarku. Tak satu pun dari mereka berorientasi lesbian. Tapi aku tetap saja bisa menikmati kebersamaan dengan mereka.

Kadang mereka datang, dan aku membuka pintu dengan tak mengenakan bakaian, bugil polos. Teman-temanku tentu saja gak kaget, karena berbugil dengan sesama cewek sangatlah biasa di kalangan kost-kostan cewek. "O ala Sis, masuk angin loh ntar," begitu biasanya komentar Yeni. Panas sih, lagian baru habis mandi, belaku sambil berbenah-benah layaknya orang selesai mandi. Yeni ini sering datang sendirian, jarang sekali dia bersama teman yang lain. Sorry ya, Yen, kataku dengan maksud untuk terus bertelanjang selama ada dia di kamarku. "Oh gak pa-pa kok Sis, nyante aja, aku pengen nonton tv neh..." Dan aku terus berbugil-ria selama Yeni ada di kamarku. Tanpa sentuhan fisik sekalipun, tetap nikmmaaat banget rasanya!

Shinta, Maya dan Putri biasanya sering datang bareng. Awalnya aku agak ragu untuk "show" didepan mereka. Tetapi justru dag-dig-dug dan kekhawatiran yang berkecamuk dan bercampur baur itu sangatlah merangsang! Pertama kali mereka bertiga sms bilang mau datang, aku merasa horny sekali sampai badanku gemetaran dan panas dingin. Karena siang lumayan panas waktu itu, aku mandi dan keramas. Pintu kamar memang sengaja tak kukunci. Mereka bertiga datang, mengetuk, dan aku sahut dari kamar mandi: "Buka aja, gak dikunci kok." Dan mereka bertiga masuk, ada yang nonton TV, ada yg cek email di komputerku yang selalu on-line, ada yang melihat-lihat koleksi bukuku.

Setelah menenangkan diri di kamar mandi, aku memberanikan diri keluar hanya dengan handuk kecil yang kuusapkan ke rambutku. Tetek dan memekku yang masih lemba tetap terbuka. "Woiii...seksi bo," teriak mereka. Aku tersenyum agak malu, tapi desakan dalam diriku untuk terus bugil membuatku tegar. Getar-getar nikmat sangat terasa saat mata-mata mereka seperti menyisir setiap sudut tubuhku. Bentar ya, sahutku sambil terus mengeringkan rambut dengan kipas angin, dan mengusap-usap bagian tubuhku yang masih agak basah dengan handuk kecilku. Mereka terus berceloteh mengomentari tubuhku, hihihi, aku makin horny. Setelah selesai, aku menyisir rambut, dan dengan tetap bugil aku berdiri di harapan mereka yang sibuk sendiri. "May, gimana perutku..." pancingku. Maya yang sibuk memindah-mindah channel tv mengalihkan pandangannya dan bilang, "Wew, langsing banget, diet ya. Aku kok perutku agak berlemak Sis."

Otomatis Putri dan Shinta pun menghentikan kesibukannya dan menatapku. "Iya Sis, kalo gak dijaga bener, mudah gemuk loh kayaknya," komentar Shinta. Yang paling jahil Putri. Dia mendekatiku dan memegang memekku. Aku tak menghindar, tentu saja. Darahku berdesir tapi aku merasa nikmat sekali. "Cuman ini nih jembutnya mulai lebat hahaha...." tawa meluncur dari mulut Putri, disambut Maya dan Shinta. Ooh, tak bisa kulukiskan kenikmatan yang kurasa. Memekmu mulai berdenyut dan terasa agak basah di dalamnya. Gilanya, Putri malah mengelus-elus memekku sambil bilang, "Sini cukuran biar mulus." Dan aku menurut saja, sementara Maya dan Shinta tertawa-tawa, "Gila lu Putri," kata mereka.

Aku duduk mengangkang di kasur, tissu ditelakkan di bawah pantatku untuk menadah jembut yang dicukur. "Telentang dong, susah kalo gini," kata Putri. Aku menurut dan menelentangkan tubuh, sementara selangkanganku kubuka lebar-lebar. Aku memang rutin menyukur jembut, hanya hari itu sudah mulai bertumbuhan meski masih pendek-pendek. Putri asyik mencukur jembutku, rupanya Maya dan Shinta pun mendekat dan menonton. "Wah boleh deh lu buka salon khusus cukur jembut, Put," kata Shinta disambut cekikikan Maya. "Diem ah, gak konsen tar," rengut Putri.

Aku menikmati tiap goresan pencukur di permukaan memekku, juga sentuhan-sentuhan jari Putri di memek, paha, dan bawah perutku. Belum lagi tatapan Maya dan Shinta yang, ahhh...harus bagaimana aku mengatakannya. Denyutan dalam memekku kian kuat, dan basah di liangnya terasa semakin licin. Cukuran selesai, dan Putri iseng lagi menyentuh itilku. "Lah kok mengeras, Sis? Elo horny ya..." aku tak bisa berkata-kata karena bersamaan dengan itu, aku sedang orgasme! Untuk menutupinya, aku cuma ketawa, yang juga disambut ketawa Maya dan Shinta. "Sinting lo Put," ujar Maya.

Apapun, libidoku tersalurkan dan terpuaskan saat itu. Sudah lama aku gak orgasme oleh seorang cewek, meski kali ini bisa dibilang tak sengaja. Habis itu, kami ngobrol-ngobrol biasa, sampai mereka bertiga pamit pulang. "Kalo mau cukur lagi, tinggal sms, ntar tak cukurin hahaha..." lagi Si Putri. Dalam hatiku, ah kenapa tidak? Tunggu saja saatnya, Put, bathinku.

Sayangnya, teman-teman kostku itu tak satupun berorientasi seks yang sama denganku. Padahal aku sudah membayangkan, andai saja kami ini sama, betapa fantastisnya. Tapi, masing-masing mereka punya cowok. Dan setiap kali mereka datang ke kamarku, atau aku ke kamar mereka, tak kutemukan gejala-gejala yang sama pada mereka. Ya sudahlah, mereka memang di jalan mereka, aku memang di jalanku. Tetapi, khusus Putri, aku tetap mau coba jajaki.

Aku tak selalu bugil jika teman-temanku datang. Terkadang aku hanya memakai daster tipis tanpa CD dan BH, atau menggunakan tank top dan celana pendek supet mini dan ketat. Itu untuk merasakan nuansa yang berbeda.

Ach, menulis kembali kisah ini, aku pun jadi horny. Biasanya aku akan masturbasi setelah posting seperti ini... 


Saturday, January 19, 2008
Tar malem lagi ya, Sis...

 

Hari itu, aku banyak merenung. Aku berpikir dan mengingat-ingat "kejadian" bersama mbak Shinta tadi subuh. Ada apa dengan Shinta? Ada apa denganku? Benar atau salah apa yang telah kami (tepatnya Shinta) perbuat? Seumur-umur, aku tak pernah terlalu teliti dengan tubuhku. Seingatku, pertama kali aku benar-benar melihat vaginaku saat SMP, sewaktu aku mendapatkan haid yang pertama. Ibu menjelaskan perihal haid yang pasti dialami setiap perempuan, dan dia menasehati agar aku benar-benar menjaga vaginaku, terutama saat haid. Hari pertama haid, ibu yang memasangkan pembalut sambil menerangkan bagaimana cara memasang yang benar. Berikutnya, ibu mengharuskan ku untuk bisa memasang pembalut sendiri. Waktu itu, aku selalu mengangkang di depan kaca jika memasangnya, khawatir meleset. Hanya begitu saja. Tak pernah aku betul-betul teliti mengamati vaginaku.

 

Sampai hari ini, saat aku baru duduk di SMU, penasaran menyelubungi perasaanku. Aku melamun saat sarapan, juga setelah duduk di kelas. Pkiranku membayang pada "perlakuan" mbak Shinta pada vaginaku, pada memekku. Aku membayangkan memekku: bulu-bulu halus yang tumbuh, bibirnya yang merah bercampur coklat, gundukannya, lendirnya, baunya yang kadang pesing kadang amis... Iiih...bagaimana mbak Shinta kok bisa asyik dan tampaknya sangat menikmati menjilat, ngemut dan menghisap memekku? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain. Tubuhku agak gemetar, kerongkonganku kering, dan memekku terasa berdenyut-denyut. Agak basah rasanya. Di sekelilingku, teman-teman tampak sibuk sendiri. Ada yang mencatat di buku, ada yang ngobrol pelan-pelan, ada yang bencanda, sementara ketua kelas mencatat sesuatu di white board. Pak Guru yang berkacamata tebal tampak sibuk sendiri di mejanya.

 

Aku pun kembali menenggelamkan lamunanku pada "pengalaman pertama" tadi subuh. Rasa isengku lalu muncul. Memekku makin berdenyut-denyut, membuat aku menggerakkan kedua pahaku. Membuka, menutup, membuka, menutup. Geli rasanya, tapi aku terus menggerakkan kedua pahaku, pelan-pelan. Badanku terasa hangat, geli dan geli di selangkanganku semakin membuat ketagihan! Sampai akhirnya...tubuhku agak menegang, nafasku agak sesak, dan selangkanganku serasa mendenyut semakin kuat dan semakin basah. Aku menggigit bibir, dan beberapa kejutan aneh terasa di selangkangan dan menyebar ke lutut dan sendi-sendiku! Tubuhku segera lemas, dan tanpa kusadari tanganku mencengkeram tasku! Aneh, denyutan beberapa kali di memekku tadi terasa enak sekali, sampai nyaris aku kehilangan kesadaran beberapa saat.

 

Kupandangi sekelilingku, masih seperti tadi setiap orang sibuk dengan diri masing-masing. Dengan hati-hati dan agak takut, aku masukkan tanganku ke dalam rok, dan meraba celana dalamku. Basah!. Kuselipkan jariku ke memekku, basaaah banget. Kusibakkan pinggiran celana dalam yang menutupi memekku, dan kubiarkan begitu sambil kuambil tisu dari tas. Dengan tisu itu, lendir yang membanjiri memekku kulap pelan-pelan. Dengan sembunyi-sembunyi, kuendus tisu itu, entah bau apa yang ada di situ. Mungkin bau lendir, sedikit pesing, dan sedikit bau keringat. Bau yang serba tipis dan samar-samar.

 

Saat istirahat, aku bertemu mbak Shinta di kantin. Sikapnya biasa saja, seolah tak pernah terjadi "sesuatu" di antara kami. Dia menyapaku seperti biasa, dan kami menikmati jajanan yang ada di situ. Kami duduk sambil menikmati cemilan dan bercerita kesana kemari. Biasalah, suasana riuh di kantin saat istirahat.

 

"Hei kok melamun, Sis?" Mbak Shinta menepuk pundakku. Aku kaget dan wajahku terasa hangat. Salah tingkah, dan pikiranku mencari-cari alasan. Tiba-tiba saja Mbak Shinta berbisik: "Gimana, enak gak? Kalo enak, tar malem lagi yah Sis..."

 

Aku segera tahu maksudnya. Aku hanya mengangguk, pelan sekali. Bel berbunyi, kami harus masuk kelas. Jam pelajaran berikutnya sangat membosankan, terlebih aku merasa tak sabar untuk "tar malem lagi" yang dibisikkan Mbak Sisca itu.


Monday, January 14, 2008
Malam pertama dengan mbak Shinta

 

Malam itu, meski capek karena kegiatan seharian, tapi badan terasa segar karena habis mandi. Aku tidur mengenakan daster dan selimut lebar. Saat membaringkah tubuh di kasur dan ranjang bertingkat bagian atas, terasa enak dan rileks sekali segenap urat dan nadiku. Meski pikiranku berkeliaran karena bingung dengan perlakuan Mbak Shinta di kamar mandi tadi, akhirnya aku tertidur juga. Bermimpi dicumbu dan dipeluk oleh Mbak Shinta. Dan memang, dalam tidur nyenyak itu, aku dikagetkan oleh sebuah sosok yang tiba-tiba sudah berbaring di sampingku, mendempek tubuhku di tingkat atas ranjang yang sempit itu. Ah, mbak Shinta, mau apa dia. Masih bingung dan tak berani menolak, aku diamkan saja.

 

Kurasakan dengus nafasnya yang tidak teratur, mendengu-dengus menerpa pipiku. Hangat rasanya. Lengannya memeluk erat tubuhku. Aku berdiam dan pura-pura tibur. Sedikit gemetaran dan sungkan, membuat aku tak berani berbuat apapun, meski sekedar menyingkirkan lengannya yang mendekapku. Pelan namun pasti, kurasakan pipinya semakin mendekat ke pipiku...dan akhirnya, cup, sebuah kecupan lembut kurasakan hangat dan basah. Bibirnya terus menempel di pipiku, dan aku tetap mendiamkannya. Sampai di sini, meski dadaku berdetak cepat, rasa ngantuk kembali menyerang, dan pelan-pelan aku kembali tertidur dalam dekapan Shinta. Entah apa yang dilakukan Shinta terhadap tubuhku di ranjang sempit itu saat aku mulai tertidur. Tiba-tiba saja aku merasa tenang dan damai dalam tidurku. Terasa dilindungi dan diayomi, terlebih dekapan itu terasa kian hangat dan menentramkan.

 

Mungkin sudah menjelang subuh, ketika aku tiba-tiba terbangun. Aku merasakan sesuatu yang aneh di selangkanganku! Pelankubuka mataku tanpa bergerak. Aku menatap langit-langit ruangan, dan mencoba mengenali apa yang kurasakan di selangkanganku. Pelan-pelan kesadaranku pulih, dan....ach...aku merasakan geli di selangakanganku! Kuangkat sedikit kepalaku, dan tampaklah sesuatu yang menonjol di bawah selimut di bagian selangkanganku! Mbak Sisca!!! Dia membenamkan kepalanya di selangkanganku, menjilat dan ngemut memekku!!! Duh, risi dan nyeri rasanya. Aku tak berani ngapa-ngapain. Aku diamin saja, sambil mataku terpejam. Tiba-tiba, lengan mbak Shinta merangkul kedua pahaku dari arah luar, dan tangannya perlahan naik menuju tetekku. Lagi, aku tak berani menepis sama sekali. Dan bra-ku pun disingkapnya, tetekku segera disambar oleh kedua tangannya. Aku merasakan sensasi asing atas-bawah, tetek-memek. Aku pasrah, dan mataku terus terpejam. Perlahan, emutan di memekku terasa geli dan geli, dampai aku menggigit bibir. Remasan lembut di tetekku juga terasa geli, dan debaran dadaku semakin kencang.

 

Aku berbaring pasrah, saat pahaku semakin terangkat dan telapak kakiku menjulang ke atas dengan masih tertutup selimut lebarku. Mbak Shinta semakin membenamkan kepalanya di selangkanganku, dan kurasakan mulut dan bibirnya seolah ingin melumat seluruh memekku. Lidahnya liar menjelajahi setiap bagian memekku. Aku menahan diri untuk tidak merintih. Sampai...aku merasa tubuhku ringan dan panas, serasa terbang, serasa tak jejak di kasur ini. Aku menggigit bibir seiring tubuh tiba-tiba lemas dan tenganku mencengkram bibir kasur...

 

Aku tertidur setelah bengong beberapa saat, dan ketika paginya terjaga, wajah mbak Shinta masih menempel di memekku. Dia tertidur di situ. Pelan-pelan, kurasakan tubuhnya bergerak, dan dia bangun. "Oh, udah bangun, Sayang?" sapanya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Setelah berbenah, kami pelan-pelan bangun, sedikit mendahului teman-teman asrama lain. Kami membereskan ranjang itu, dan bergantian menuruni tangganya, menjejak lantai. Untunglah, ranjangku terletak paling ujung di sebelah dinding, dan lampu tidur memang Cuma remang-remang. Teman yang tidur di ranjang tingkat persis di sebelahku tampak masih pulas di balik selimutnya. Ah, mudah-mudahan tak ada yang menyaksikan aksi mbak Shinta subuh tadi. Terselip kekhawatiran di hatiku.

 

Bengongku tersentak oleh kecupan mbak Shinta di bibirku. Agak lama, sambil dia memelukku. Ih...bukankah dia tadi habis melumat memekku? Dia mengecupku, sama saja dengan aku mengecup memekku sendiri melalui bibirnya? Ah sudahlah. Kami beranjak untuk bersiap mandi pagi. Beberapa ranjang teman-teman di sebelah sana memang tampak mulai bergerak, menandakan penghuninya mulai bangun. Pelan namun pasti, mulai terdengar suara gerundelan orang bangun tidur.

 

Aku melewati "pengalaman pertama" itu dengan berusaha bersikap biasa. Seperti sikap mbak Shinta yang seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Sunday, January 06, 2008
Kembali dari pengasingan

Apa kabar semua?

Kedengarannya sangar ya? Kembali dari pengasingan, kayak tahanan politik aja. Ya, sejak postingan saya yang terakhir, saya menyepi dan mengasingkan diri di sebuah tempat. Tanpa hp dan internet. Hanya sebuah pondok sederhana dengan alam yang masih asli. Enak untuk merenung dan meditasi.

Beberapa cerita sudah saya rampungkan, hanya saja masih perlu diedit dan disesuaikan untuk saya posting di blog ini. Harap bersabar ya? Saat saya kembali, dan membuka blog ini, ternyata sudah ada beberapa komentar dari pengunjung. Saya senang, tentu saja. Dan terima kasih banyak untuk kalian.

Kali ini, saya baru ingin menyapa kalian semua. Selamat menempuh era baru 2008.

salam

--sisca--


Next Page



akulesbian
January 1st 1987  (Age 22)
Female
Jogja
::akulesbian-akukesepian-akumencarikawan::suatu waktu, aku temukan salah satu jalan, mungkin dengan membuat blog, aku dapat membangun hidupku dan memulai lagi (atau mencoba) membangun "surga indah" dalam hidupku. Aku ingin bercerita di sini. Aku ingin punya teman di sini. Aku ingin...ingin...ingin... Aku harap kalian mau mengerti aku. Datanglah, dan jadilah sahabatku. Aku akan bercerita semuanya, semuanya, semuanya...mail me:aku.lesbian@yahoo.co.id
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed