|
Malam itu, meski capek karena kegiatan seharian, tapi badan terasa segar karena habis mandi. Aku tidur mengenakan daster dan selimut lebar. Saat membaringkah tubuh di kasur dan ranjang bertingkat bagian atas, terasa enak dan rileks sekali segenap urat dan nadiku. Meski pikiranku berkeliaran karena bingung dengan perlakuan Mbak Shinta di kamar mandi tadi, akhirnya aku tertidur juga. Bermimpi dicumbu dan dipeluk oleh Mbak Shinta. Dan memang, dalam tidur nyenyak itu, aku dikagetkan oleh sebuah sosok yang tiba-tiba sudah berbaring di sampingku, mendempek tubuhku di tingkat atas ranjang yang sempit itu. Ah, mbak Shinta, mau apa dia. Masih bingung dan tak berani menolak, aku diamkan saja. Kurasakan dengus nafasnya yang tidak teratur, mendengu-dengus menerpa pipiku. Hangat rasanya. Lengannya memeluk erat tubuhku. Aku berdiam dan pura-pura tibur. Sedikit gemetaran dan sungkan, membuat aku tak berani berbuat apapun, meski sekedar menyingkirkan lengannya yang mendekapku. Pelan namun pasti, kurasakan pipinya semakin mendekat ke pipiku...dan akhirnya, cup, sebuah kecupan lembut kurasakan hangat dan basah. Bibirnya terus menempel di pipiku, dan aku tetap mendiamkannya. Sampai di sini, meski dadaku berdetak cepat, rasa ngantuk kembali menyerang, dan pelan-pelan aku kembali tertidur dalam dekapan Shinta. Entah apa yang dilakukan Shinta terhadap tubuhku di ranjang sempit itu saat aku mulai tertidur. Tiba-tiba saja aku merasa tenang dan damai dalam tidurku. Terasa dilindungi dan diayomi, terlebih dekapan itu terasa kian hangat dan menentramkan. Mungkin sudah menjelang subuh, ketika aku tiba-tiba terbangun. Aku merasakan sesuatu yang aneh di selangkanganku! Pelankubuka mataku tanpa bergerak. Aku menatap langit-langit ruangan, dan mencoba mengenali apa yang kurasakan di selangkanganku. Pelan-pelan kesadaranku pulih, dan....ach...aku merasakan geli di selangakanganku! Kuangkat sedikit kepalaku, dan tampaklah sesuatu yang menonjol di bawah selimut di bagian selangkanganku! Mbak Sisca!!! Dia membenamkan kepalanya di selangkanganku, menjilat dan ngemut memekku!!! Duh, risi dan nyeri rasanya. Aku tak berani ngapa-ngapain. Aku diamin saja, sambil mataku terpejam. Tiba-tiba, lengan mbak Shinta merangkul kedua pahaku dari arah luar, dan tangannya perlahan naik menuju tetekku. Lagi, aku tak berani menepis sama sekali. Dan bra-ku pun disingkapnya, tetekku segera disambar oleh kedua tangannya. Aku merasakan sensasi asing atas-bawah, tetek-memek. Aku pasrah, dan mataku terus terpejam. Perlahan, emutan di memekku terasa geli dan geli, dampai aku menggigit bibir. Remasan lembut di tetekku juga terasa geli, dan debaran dadaku semakin kencang. Aku berbaring pasrah, saat pahaku semakin terangkat dan telapak kakiku menjulang ke atas dengan masih tertutup selimut lebarku. Mbak Shinta semakin membenamkan kepalanya di selangkanganku, dan kurasakan mulut dan bibirnya seolah ingin melumat seluruh memekku. Lidahnya liar menjelajahi setiap bagian memekku. Aku menahan diri untuk tidak merintih. Sampai...aku merasa tubuhku ringan dan panas, serasa terbang, serasa tak jejak di kasur ini. Aku menggigit bibir seiring tubuh tiba-tiba lemas dan tenganku mencengkram bibir kasur... Aku tertidur setelah bengong beberapa saat, dan ketika paginya terjaga, wajah mbak Shinta masih menempel di memekku. Dia tertidur di situ. Pelan-pelan, kurasakan tubuhnya bergerak, dan dia bangun. "Oh, udah bangun, Sayang?" sapanya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Setelah berbenah, kami pelan-pelan bangun, sedikit mendahului teman-teman asrama lain. Kami membereskan ranjang itu, dan bergantian menuruni tangganya, menjejak lantai. Untunglah, ranjangku terletak paling ujung di sebelah dinding, dan lampu tidur memang Cuma remang-remang. Teman yang tidur di ranjang tingkat persis di sebelahku tampak masih pulas di balik selimutnya. Ah, mudah-mudahan tak ada yang menyaksikan aksi mbak Shinta subuh tadi. Terselip kekhawatiran di hatiku. Bengongku tersentak oleh kecupan mbak Shinta di bibirku. Agak lama, sambil dia memelukku. Ih...bukankah dia tadi habis melumat memekku? Dia mengecupku, sama saja dengan aku mengecup memekku sendiri melalui bibirnya? Ah sudahlah. Kami beranjak untuk bersiap mandi pagi. Beberapa ranjang teman-teman di sebelah sana memang tampak mulai bergerak, menandakan penghuninya mulai bangun. Pelan namun pasti, mulai terdengar suara gerundelan orang bangun tidur. Aku melewati "pengalaman pertama" itu dengan berusaha bersikap biasa. Seperti sikap mbak Shinta yang seolah tak pernah terjadi apa-apa. |
| Akira December 26, 2008 01:03 AM PST Moga kaMuh bs ngejaLani idUp dngan normaL sobAt... KaLo kAmuh in9in bErubAh pAzti ada jaLan na... duNia iNi fana,kita gAk kAn pRnh tw kpN iNi sMua bErakHir... Slama msh t'bUka pNtu taUbat... B'tobAt Lah... Because it's not too Late.. ^_^ | ||
| toma October 23, 2008 09:29 AM PDT wow I like it dued | ||
| Hasegawa May 23, 2008 08:26 PM PDT aku haseagwa, domisili surabaya. aku mau nyoba ma cewek yg lesbi, klo bersedia hub aku di 03177115716. OK.... aku tunggu, oya aku masih perjaka...... | ||
| Joe d Santos January 16, 2008 01:12 AM PST ditunggu karya berikutnya, kalo perilkau seeh itu hak asasi, maju terus.... met kenal, smeoga kta juga bisa chat, kalo ga keberatan add gw josefhd@yahoo.com | ||
| sulay_malik January 15, 2008 07:55 PM PST sis cobalah kamu mulai berhubungan dengan seorang lelaki tapi yg bisa mengerti km dan selalu mendengar curahan hati km bukan hanya untuk seks semata,mungkin dengan cara ini km bisa sedikit2 menghilangkan rasa suka km terhadap wanita. itu saja yg aku sampaikan yg bisa aku sarankan semoga kamu bisa menjalani hidup ini dengan normal. | ||
| lm knl smuanya January 15, 2008 05:59 PM PST boleh ga nyobain memek kamu, ranov_prog@yahoo.com | ||
| tendria January 15, 2008 06:57 AM PST wow....lmk knl dri sya?sya llki yg plg sng ama crita sek apalg ttg lisbian. | ||
| danar January 14, 2008 11:52 PM PST gila sis, mendebatkan...ayo mana lanjutanya ditunggu loh peace :) | ||
| Leave a Comment: |